(Merasa) Bahagia

Hai!

Sudah bisa menebak, apa yang akan dibahas kali ini? Bayangan seperti apa yang terlintas di dalam pikiran kalian tentang kata "Bahagia"? Sejauh apa kata itu dapat kalian raih saat ini? Yang terpenting, bagaimana rasanya?

Apa, sih, bahagia itu? 
Apa itu keadaan ketika kamu dapat bekerja dengan fasilitas dan gaji yang kamu dambakan sejak dulu?
Keadaan dimana kamu mendapatkan senyuman dan sanjungan dari banyak orang? 
Atau se-ringan kamu dapat membeli barang tanpa memikirkan tagihan Paylater yang sudah menunggu pada bulan besok itu?

Sejujurnya bagiku, kata ini sangat susah untuk dikendalikan. Kata ini sangatlah luas dan tidak terasa jelas bagaimana terjadinya. 

Yap, benar. Memang hidupku saja kali, ya, yang menyedihkan? Haha, tak apa, Aku tahu, kok. Terlebih, mau bagaimana lagi? Hehe.

Lagi-lagi Aku meluapkannya disini, semoga tidak bosan, ya?
Ini ceritaku, hidupku, dan cerita yang sudah diberikan oleh Tuhan untuk Aku jalani, hanya berisi ruang kosong dan hampa. 
Palsu dan tidak nyata. 
Bahkan seperti Aku sudah berada pada limit tertinggiku.

Ingin menyerah dan melarikan diri dari semua yang ada di sekelilingku. Hal terburuk, Aku tidak ingin terbangun dari tidur malamku, berharap itu adalah malam terakhir Aku mempertanyakan "Kapan Aku akan bahagia?"

"Ah, itu karna kamu saja yang kurang bersyukur!"
"Kamu itu kurang dekat dengan Tuhan mu!"
"Yasudah, sabar aja, lagian..."
"Makanya jangan...."

Kalimat itu terasa sangat lebih memuakkan bagiku, terlebih lagi, itu semua terucap dari orang terdekatku, keluarga.
Bagaimana orang itu bisa dengan percaya diri mengatakan bahwa diriku kurang bersyukur tanpa tahu bagaimana Aku menjalani setiap detik hidupku?
Bagaimana orang itu bisa dengan tajamnya mengatakan bahwa Aku tidak dekat dengan Tuhanku, sementara Aku merasa justu Aku ingin lebih cepat dengan dekat Tuhan karna tidak merasa dekat dengan orang-orang sekitarku?

Salah satu temanku pernah mengatakan, bahwa Ia tidak percaya dengan pernyataan "Keluarga itu dari hubungan darah" dan sepertinya Aku sangat setuju dengan hal itu.

Darah itu yang membuatku terjatuh berkali-kali, lalu Aku dibangkitkan oleh orang yang justru tidak sedarah denganku.
Darah itu yang membuatku begitu lelah membuka mata, lalu Aku dipersilahkan untuk memejamkan mata oleh orang yang justru tidak sedarah denganku.
Darah itu yang kini membuatku tidak melihat jelas apa itu "Bahagia" dan sekedar "Merasa Bahagia"

Orang-orang yang tidak sedarah itulah yang justru membuatku tersadar bahwa Aku tidak harus selalu bahagia, hanya perlu tahu bahwa di dunia ini Aku memiliki mereka.
Mereka yang membuatku merasa nyaman dengan hanya sekedar "Yaudah, gapapa. Cerita aja."
Yang membuatku merasa lebih kuat dengan hanya sekedar "Gue gatau kalo jadi lo, lo itu kuat banget"
Yang membuatku bertahan dengan hanya sekedar "Jangan dulu, kan kita belum nonton konser bareng! Hehe"
Yang membuatku merasa dicintai dengan hanya sekedar "Kamu jangan takut, Aku bisa temenin kalo kamu mau" 


Aku merasa bahagia karena bersama mereka, meski tidak pada malamnya saat berpisah. Tak apa, sudah cukup.
Aku merasa bahagia karena tertawa dengan mereka, meski pada detik berikutnya harus meneteskan air mata karena curahan hati masing-masing. Tak apa, sudah cukup.
Aku merasa bahagia karena banyak cerita yang terjadi meski tidak melulu tentang kenangan indah. Tak apa, sudah cukup.

Garis besarnya, karena dengan mereka, Aku sudah bisa merasa bahagia.

Love,


52hz


(Ku perkenalkan, sebagian "Mereka" ku💜)




Comments

Post a Comment

Popular Posts