Review Buku "I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki" by Baek Se Hee

  

Hai!

Akhirnya setelah sekian lama aku berusaha menyelesaikan apa yang harusnya ku selesaikan untuk blog review buku keduaku ini, I’m done, Yuhuuu.

Buku kedua yang akan aku review sepertinya sudah tidak asing lagi bagi sebagian orang. Yap! Kali ini yang menjadi pemeran utama dalam isi blogku adalah buku dari Baek Se Hee, penulis asal Korea Selatan, berjudul “I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki” . Buku ini bertema Self Improvement  dan menjadi salah satu buku Bestseller di Korea Selatan. Tidak salah, dong, Aku dan mungkin beberapa dari kalian sangat penasaran dengan apa, sih, isi dari buku ini? Terus kenapa juga ada “Tteokpokki” di dalam judulnya? Yaw! Here you go!

“I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki”” ini diterbitkan pada tahun 2019 dan sampai September 2020, buku ini sudah memasuki cetakan kesepuluh, dan masih masuk ke dalam list buku yang paling dicari di halaman depan beberapa toko buku online. Jika aku mulai dari sampul bukunya, mungkin itu adalah salah satu hal yang menarik perhatian para pembaca, Buku ini memiliki dasar warna Pink, dengan gambar seorang wanita yang melipat tangannya di bawah kepala dan diikuti dengan tatapan yang terlihat kosong. Jelas, ini adalah sebuah daya tarik untuk menggambarkan bagaimana sosok wanita itu terlihat “ingin mati” (seperti tag line pada buku ini).


Cover Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki

 

“I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki” memiliki tebal halaman 231, merupakan sebuah essai yang berisi tentang bagaimana pengalaman penulis menghadapi keadaan “Depresi” yang dialaminya selama ini. Lebih tepatnya, buku ini berisi 95% percakapan yang dilakukan oleh penulis dengan Psikiaternya (dimulai dari halaman 18-186) dan dilanjutkan dengan apa yang ada dalam isi hati penulis sebelum dan setelah mengikuti pengobatan masa depresinya (Halaman 187-231).

Bahasa yang digunakan pada buku ini “sedikit” berat, Maksudnya, di dalam buku ini, kalian akan menemui beberapa istilah Psikologi yang terjadi pada Penulis  (Seperti Distimia, Mitomania, Akathisia, Kepribadian Historik), Tetapi hal tersebut tidak perlu kalian khawatirkan ketika memulai membaca buku ini, karena pada setiap akhir halaman akan ada penjelasan tentang beberapa istilah Psikologi yang muncul.

Menuju bagian inti, yaitu “Apa, sih, sebenarnya isi buku ini?”

Menurut pendapatku pribadi, Buku ini seperti menyajikan gambaran bagaimana peliknya “Depresi” yang dialami oleh banyak manusia. Mengapa? Karena pada buku ini, dalam setiap konsultasi yang dilakukan, Psikiater disini selalu mengorek keresahan-keresahan yang ada di dalam diri Penulis dan aku rasa beberapa dari keresahan itu sering kali terjadi di dalam diri kita sendiri. Jika pada satu pertemuan Penulis mengatakan bahwa Ia sedang tidak berbahagia, Psikiater ini tidak berhenti pada pertanyaan “Mengapa?” “Bagaimana itu bisa terjadi?” tetapi juga menanyakan “Apa hal itu perlu untuk kamu rasakan?” “Bagaimana jika hal itu memang selalu ada ketika kamu berada pada lingkunganmu?”  yang kemudian muncul lah beberapa alasan lagi mengapa “Depresi” itu bertahan pada diri Penulis.  Balik lagi kepada kata “Berat” yang aku ucapkan sebelumnya, setiap pembicaraan yang dilakukan dalam buku ini selalu bertimbal balik dan memiliki banyak akar dalam satu topik.

Oiya, Jika kalian bepikir bahwa di dalam buku ini yang membuat Penulis tidak ingin pergi adalah hanya karena ingin memakan Tteokpokki, Kalian harus berjabat tangan denganku! Haha, Aku pun sama! Tetapi setelah membaca buku ini, percayalah, bahwa  hanya dua kali cemilan khas Korea itu muncul. Memang benar, Penulis sangat gemar memakan Tteokpokki dan makanan pinggir jalan lainnya, tetapi, secara keseluruhan kegiatan memakan Tteokpokki  itu dimaksudkan pada kegiatan sehari-hari yang penulis lakukan. Penulis memang “Ingin mati” meninggalkan semua keresahannya di dunia, tetapi Ia enggan untuk meninggalkan hal-hal kecil yang disukainya, seperti berjalan sehabis pulang kantor, menonton film bersama teman, dan memakan jajanan pinggir jalan yang tentunya digambarkan dalam sebuah kata “Tteokpokki”.

“I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki” ini merupakan buku yang sangat cocok untuk kalian yang sedang ingin mengetahui banyak pemikiran dari banyak sisi. Sisi seseorang yang sedang depresi dan beberapa sisi yang diungkapkan oleh Psikiater.  Jika kalian sedang mengalami hal yang buruk, Aku sarankan untuk menunda membaca buku ini, ya, hehe (Menurut pengalamanku, kepala kalian pasti akan terasa lebih penuh karena beberapa keresahan yang dijabarkan dalam buku ini).

Terakhir dariku, “I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki”” ini merupakan buku yang membuatku lebih menghargai bagaimana hidup itu seharusnya berjalan, apa yang harus dikhawatirkan dan apa yang harus begitu saja kita lewatkan. Buku ini membuka pemikiranku tentang hal-hal kecil yang sebelumnya tidak aku sadari membuatku berada pada titik sekarang ini.

“I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki” masih bisa kalian dapatkan di toko buku online, ya! Dan pada bulan Juni 2020, Buku ini sudah ada part 2 nya, loh! “I want to die but I want to eat Tteokpokki 2” juga bisa kalian baca dengan terjemahan Bahasa Indonesia.

Beberapa penyataan dalam “I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki” yang mengesankan bagiku dan sering terjadi di banyak kehidupan :

“Jika seseorang terluka terlalu dalam, maka akan cenderung menekan luka tersebut.” (Hal. 57)

“Setiap orang punya impian maupun utopia masing-masing. Tapi, merasa iri terhadap sesuatu dan terus menerus membandingkan diri kita, bahkan menganggap rendah diri kita adalah hal yang sangat jauh berbeda.” (Hal. 64)

“Kesedihan terkadang seperti minyak dan mendorong kebahagiaan tenggelam kebawah. Namun, wadah yang menampung kesedihan dan kebahagiaan adalah sebuah wadah bernama kehidupan yang memberikan rasa nyaman.” (Hal. 121)

“…Daripada Anda menderita sendirian, akan lebih baik jika Anda menuangkannya dan menceritakannya pada orang lain seperti sekarang ini. Jika Anda tidak suka bertemu dengan teman-teman pacar Anda, tentu Anda tidak perlu menemui mereka.” (Hal. 151)

“Aku tidak menyukai diriku yang tidak percaya diri saat bertemu dengan orang yang kuanggap lebih hebat dariku, tapi merasa percaya diri saat bertemu dengan orang yang kuanggap tidak lebih hebat dariku.” (Hal. 154)

“…ada baiknya Anda mengalami terlebih dahulu rasa putus asa dan kesepian yang lebih besar daripada apa yang Anda rasakan saat ini.” (Hal. 185)

“Ada saat di mana aku ingin mencengkram kerah baju orang yang menyuruhku untuk bersemangat di saat aku merasa sangat kesulitan. Padahal, Ia bisa melakukan hal lain misalnya duduk disampingku..” (Hal. 196)

“Meskipun aku juga tidak dengan sengaja bertingkah lemah untuk menunjukkan bahwa aku orang yang mudah tertekan, aku tidak punya niat untuk meluruskan bahuku, membusungkan dadaku, lalu berbicara dengan suara keras.” (Hal. 197)

“Tidak apa-apa jika tidak bersemangat. Mungkin saja hari ini aku tidak bisa melakukan pekerjaanku dengan baik. Itu semua adalah pengalaman, tidak apa-apa.” (Hal. 197)

“Aku menyadari ketika kita mengharapkan agar seseorang tidak berubah atau tetap menjadi seperti dirinya yang sekarang, harapan kita itu bisa menjadi beban bagi orang tersebut.” (Hal. 217)

Jika kalian sudah memutuskan untuk membaca buku ini, Selamat sembuh~

Love,


52Hz

Comments

Popular Posts